Kekuatan Komputasi Memberikan Ide Segar bagi
Matematika
Hanya
delapan tahun kemudian, Yasumasa Kanada menggunakan komputer menemukan string
tersebut, dimulai dari angka ke 22869046249 pi. Penrose jelas tidak
sendiri dalam ketidakmampuannya melihat kekuatan besar yang dapat dibawa
komputer. Banyak fenomena matematika yang di masa lalu terlihat tak terpecahkan
dan tidak dapat diketahui, sekarang dapat diketahui, dengan presisi yang
tinggi.
Dalam
artikelnya, “Exploratory Experimentation and Computation,” yang tampil
bulan November 2011 di Notices of the American Mathematical Society,
David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein menjelaskan bagaimana teknologi
komputer modern telah memperluas kemampuan kita mengetahui hasil matematika
baru. “Dengan menghitung ekspresi matematika pada presisi sangat tinggi,
komputer dapat menemukan hubungan dan rumus yang sepenuhnya tak terduga,” kata
Bailey.
Matematika, Ilmu tentang Pola
Mispersepsi
umum adalah pekerjaan seorang matematikawan sepenuhnya adalah menghitung. Jika
itu benar, komputer semestinya sudah menggantikan matematikawan sejak lama. Apa
yang sesungguhnya dilkaukan matematikawan adalah menemukan dan menyelidiki pola
– pola yang muncul dalam bilangan, dalam
bentuk abstrak, dalam transformasi antara objek matematis berbeda, dan
sebaginya. Mempelajari pola demikian membutuhkan alat yang tajam dan memuaskan,
dan, hingga sekarang, komputer masih merupakan alat yang terlalu tumpul, atau
tidak cukup kuat, untuk berguna banyak dalam matematika. Namun di saat yang
sama, bidang matematika tumbuh dan menjadi semakin dalam sehingga sekarang
beberapa pertanyaan yang muncul tampak membutuhkan kemampuan tambahan di luar
otak manusia.
“Ada
consensus yang mulai diterima kalau pikiran manusia pada dasarnya tidak bagus
dalam matematika dan harus dilatih,” kata Bailey. “Dengan fakta ini, komputer
dapat dilihat sebagai pelengkap manusia – kita dapat berintuisi namun tidak
pandai menghitung atau memanipulasi; komputer tidak pandai berintuisi namun
bagus dalam menghitung dan memanipulasi.”
Walaupun
matematika disebut sebagai “ilmu deduktif”, matematikawan selalu memakai
eksplorasi, apakah lewat perhitungan atau gambar, untuk menguji gagasan dan
memperoleh intuisi, dengan cara yang kurang lebih sama dengan ilmu induktif
melakukan eksperimen. Sekarang, aspek induktif matematika ini tumbuh lewat
pemakaian komputer, yang telah meningkatkan jumlah dan tipe eksplorasi yang
dapat dilakukan. Komputer tentunya digunakan untuk meringankan beban
menghitung, namun ia juga dipakai untuk memvisualisasi objek matematika,
menemukan hubungan baru antar objek tersebut, dan menguji (dan khususnya
memfalsifikasi) konjektur. Seorang matematikawan juga memakai komputer untuk
mengeksplorasi hasil untuk melihat apakah ia pantas untuk mencoba melakukan
pembuktian. Jika demikian, maka kadangkala komputer dapat memberi petunjuk
tentang bagaimana bukti dapat diteruskan. Bailey dan Borwien memakai istilah
“matematika eksperimental” untuk menjelaskan jenis pemakaian komputer ini dalam
matematika.
Mengeksplorasi Bilangan Prima dengan Komputer
Artikel
mereka memberi beberapa contoh matematika eksperimental: perhitungan angka pi
yang disebut di atas adalah salah satunya. Contoh lain disediakan oleh
eksplorasi komputer pada masalah matematika yang disebut konjektur Giuga.
Konjektur ini mengajukan kalau, untuk setiap bilangan bulat positif n, kita dapat menguji secara
pasti apakah n bilangan prima atau bukan dengan menghitung jumlah pasti dimana
n muncul dalam eksponen penjumlahan. Jumlah tersebut harus memiliki nilai
tertentu, sebut saja S, jika dan hanya jika n adalah bilangan prima; dikatakan
secara berbeda, jumlah tersebut tidak akan memiliki nilai S jika dan hanya jika
n bilangan komposit. Walaupun konjektur ini dibuat tahun 1950, ia belum dapat
terbukti hingga sekarang dan terlihat diluar jangkauan metode matematika
konvensional.
Walau
begitu, Bailey dan Borwein, bersama dengan kolaboratornya, mampu memakai
komputer untuk menunjukkan kalau setiap bilangan yang merupakan pengecualian
dari konjektur Giuga harus memiliki lebih dari 3,678 faktor prima dan lebih
dari 17,168 angka desimal panjangnya. Yaitu, setiap bilangan komposit yang
lebih pendek tidak dapat memberikan nilai S. Ini tidak membuktikan kalau
konjektur Giuga benar, namun adalah bukti yang meyakinkan dalam mendukung
kebenaran konjektur tersebut. Jenis bukti empiris ini kadang yang dibutuhkan
untuk memberikan keyakinan yang
cukup bagi matematikawan untuk mendedikasikan energinya mencari bukti penuh.
Tanpa keyakinan tersebut, inspirasi untuk mencari bukti mungkin tidak ada.
Dampak pada Pendidikan
Selain
membahas pemanfaatan komputer dalam matematika, artikel ini juga menyentuh
kebutuhan untuk menyusun ulang pendidikan matematika untuk memberi pelajar alat
matematika eksperimental. “Pelajar masa kini hidup, seperti kita, di dalam
dunia kaya informasi tapi miskin penilaian dimana ledakan informasi, dan alat,
tidak akan hilang,” kata Borwein. “Jadi kita harus mengajarkan penilaian (bukan
hanya masalah plagiarism( ketika memakai apa yang telah tersedia secara digital.
Selain itu, tampak bagi saya penting kalau kita merancang desain software – dan
gaya mengajar kita secara umum – dengan pemahaman kita yang semakin besar
mengenai kekuatan dan keterbatasan kognitif kita sebagai spesies.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar